kipas01Tiba dibandara Sultan Hasanuddin pukul 12.00 WITA cuaca di Makassar cukup menyengat, sang pilot mengatakan suhu sekitar 33 derajat celsius, tak lama setelah istirahat dan makan siang dibandara, saya berangkat menuju secretariat Kipas (begitu mereka menyebutnya) dan tiba sekitar pukul 13.30 WITA. Selama perjalanan menuju Kipas tiba-tiba hujan lebat mengguyur kota Makassar, supir taksi mengatakan Makassar baru 2 hari ini hujan lebat, alhasil tiba di secretariat kipas dengan sedikit basah-basahan. Sungguh sangat tidak terbayang apa yang Mba Olla katakan (Ketua KIPAS) bahwa secretariat mereka berada disekitar area persawahan – gambar bisa dilihat (picture 1 & 2).

Yaa memang benar sungguh apa adanya, jika kita membayangkan secretariat mereka berada disekitar area persawahan itu memang benar, atau lebih tepatnya saya mengatakan secretariat mereka berada di tengah-tengah area persawahan (ladang kosong) yang untuk mencapainya harus dengan menginjak-injak ladang tersebut, karena beton dipinggir-pinggir sawah belum selesai dibuat. Saya kira terbayang oleh teman-teman Penabuluers jika kita masuk area persawahan dengan kostum kerja (sehari-hari di Penabulu) dengan dijemput tanpa payung (karena mereka tidak ada payung) namun dengan menggunakan spanduk ala kadarnya untuk menutupi derasnya air hujan.

Namun bukan sulitnya akses kita menuju Kipas yang menjadi tulisan saya ini, bukan pula spanduk yang menjadi penutup kepala saat hujan deras, tapi ada apa? dan kenapa? mereka lebih memilih tempat tersebut untuk dijadikan secretariat?. Karena untuk mengakses ke secretariat mereka saja saya sempat salah jalan, ternyata orang-orang Makassar lebih mengenal jalan “Bung” bukan jalan “Lantebung” yang jelas-jelas itu berbeda tempat tujuan. Supir taksi sempat kebingungan dengan posisi secretariat yang berada ditengah-tengah ladang kosong, dengan logat Makassar dia bertanya : “Tempat/Kantor apa itu Mas?” saya dengan senyuman dan tatapan yang sebenarnya masih bertanya-tanya pula menjawab: “Itu kantor LSM Pak”. (more…)